Under Competition | By Administrator on 2014-09-14 18:06:57

Kampung Adat Sade

Salah satu destinasi wisata yang dikunjungi oleh rombongan travel wariters gathering adalah kampung adat sade. Kampung Sade adalah salah satu kampung adat suku sasak Lombok. Kampung Sade berada di Desa rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kampung ini berada sekitar 20 kilometer dari Bandar Udara Internasional Lombok dengan waktu tempuh 15-20 menit. Berada di Jalan Pariwisata Kute tidak membuat desa ini mengalami akulturasi budaya. Masyarakat kampung Sade mampu mempertahankan adat istiadat dan tradisi diantara gempuran arus modernisasi.
Sebagai kampung adat, kampung Sade menjadi salah satu kampung pariwisata di Pulau Lombok. Kampung ini memiliki banyak sekali keunikan terutama dari struktur bangunan rumah yang masih mempertahankan arsitektur rumah khas suku sasak Lombok yang disebut bale tani. Pembuatan rumah sangat unik karena menggunakan bahan yang masih alami. Atap rumah mereka masih menggunakan ilalang dengan rangka dari bambu dan diikat menggunakan ijuk pohon enau atau bambu tali. Dinding rumah terbuat dari anyaman bamboo. Pintu terbuat dari kayu hutan. Dan lantai dari tanah dengan plester dari kotoran sapi atau kotoran kerbau. Kegiatan memplester lantai dengan kotoran tersebut disebut ngelulut. Ini merupakan cirri khas bangunan rumah suku sasak. Walaupun menggunakan kotoran, akan tetapi rumah adat tersebut tidak bau. Manfaat dari proses ngelulut adalah membuat lantai menjadi hangat karena masyarakat adat kampung Sade tidak tidur menggunakan kasur, melainkan hanya menggunakan tikar. Kegunaan lain adalah untuk mempertahankan struktur tanah tetap kuat karena terikat oleh serat pada kotoran sapi tersebut.
Arsitektur bangunan sangat unik. Rumah adat pada atapnya berbentuk gunungan yang menukik ke bawah. Ruangan disebut rong terbagi menjadi inaq bale (ruang utama) meliputi bale duah dan bale dalem. Bale duah digunakan sebagai tempat tidur bagi laki-laki. Mereka tidur berderet dengan tikar di satu ruangan. Bale dalam digunakan untuk menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan dan tempat menyemayamkan jenazah sebelum dimakamkan. Ruang bale daem dilengkapi dengan amben (dipan kayu) yang bisa digunakan untuk tidur anak gadis. Di bale dalem juga digunakan sebagai pawon (dapur) yang dilengkapi dengan jangkih (tungku dari tanah). Kelengkapan yang ada juga berupa sempare yang digantung pada atap. Sempare terbuat dari bamboo yang digunakan untuk menyimpan perabotan rumah tangga seperti biki (periuk tanah), semen (ceret tanah), gadang (tempat nasi dari bambu), keraro (bakul dari bambu). Rumah adat juga memiliki sesangkok atau betaran yang digunakan sebagai tempat menerima tamu. Di antara bale dalam dan bale luar dipisahkan oleh lawang surung (pintu geser) dan tangga yang terdiri dari tiga anak tangga.
Di kampung adat Sade, teridiri dari beberapa bangunan khas selain bale tani sebagai tempat tinggal sebagian besar penduduk yang ekonomi menengah ke bawah dengan profesi sebagai petani. Bangunan tersebut di bangun berdasarkan fungsi yang berbeda.
1. Bale jajar merupakan bangunan rumah tempat tinggal orang sasak dengan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar sama dengan bale tani yang membedakan hanya jumlah bale dalem.
2. Berugak merupakan bangunan segi empat sama sisi yang tidak memiliki dinding. Penyangga dari kayu dan atap ilalang. Berugak bedada di samping kiri atau kanan bale tani atau bale jajar. Berugak berfungsi untuk menerima tamu. Karena tidak semua tamu boleh masuk ke dalam bale. Misalnya sebagai tempat midang (gadis yang dicari pacarnya).
3. Sekenam, memiliki bentuk yang sama dengan berugak tapi memiliki enam tiang. Berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar tata karma.
4. Bale bonder, dibangun ditengah pemukiman. Digunakan sebagai tempat sangkep (pertemuan) atas seperti penyelesaian pelanggaran adat.
5. Alang (lumbung), bangunan yang digunakan sebagai tempat menyimpan hasil pertanian.

Selain melihat rumah adat suku sasak, rombongan bloger juga melihat bagaimana proses menenun kain khas suku sasak. Para bloger melihat proses pembuatan benang dan menenun. Yong JingYi bloger asal Singapura juga mencoba untuk menenun. "it's so difficult...so i can get married now?", ucapnya. Ia tau bahwa perempuan Sade boleh menikah jika ia sudah bisa menenun.
Menenun merupakan salah satu budaya kreatif perempuan suku sasak Lombok. Zaman dahulu, semua perempuan suku sasak bisa menenun. Itu menjadi kemampuan wajib, bahkan perempuan sasak belum boleh menikah kalau belum bisa menenun. Itu menjadi salah satu indicator kedewasaan perempuan suku sasak. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan zaman dan arus modernisasi yang melanda maka kemampuan menenun semakin langka. Hanya di kampung adat sade, kemampuan kreatif ini masih menajdi warisan turun temurun.
Pembuatan kain tenun dimulai dengan pembuatan benang dari kapas. Perempuan sade mendapat kapas dari desa luar karena areal persawahan di sekitar kampung digunakan untuk menanam padi sebagai bahan makanan pokok. Kapas biasanya di tanam di tegal (sebutan untuk lahan pegunungan yang ditanami tanaman tumpang sari). Pembuatan benang di bagi menjadi beberapa proses yaitu:
1. Bebetuk, yaitu proses mengolah kapas menjadi halus. Proses ini dilakukan dengan alat tradisional yang terbuat dari bamboo dan benang. Alat ini dipetik ditengah kapas, proses ini dilakukan didalam kelambu agar kapasnya tidak beterbangan kemana-mana.
2. Gulung, kapas yang sudah halus digulung atau di buat menjadi bentuk bulat memanjang sekitar 15 cm.
3. Minsah, adalah proses dengan alat tradisional yang di sebut arah. Pada proses inilah kapas dibuat menjadi benang.
4. Pewarnaan. Setelah menjadi benang, proses selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan daun taum atau menggunakan kulit kayu.
Proses pembuatan benang biasanya dilakukan oleh orang yang sudah lanjut usia. Kemampuan ini sudah sangat langka dan tidak semua perempuan Sade bisa melakukannya.
Setelah benang jadi, barulah proses menenun di mulai. Tahapannya adalah sebagai berikut:
1. Ngani. Adalah proses membuat badan kain tenun. Proses ini menentukan motif apa yang ingin dibuat. Proses ini juga menentukan luas kain yang ingin di tenun. Proses ini mengunakan alat tradisional yang disebut aneq.
2. Nensek. Adalah proses menenun yang terakhir. Proses yang biasa kita lihat. Proses memasukkan benang dalam badan kain tenun yang telah di buat.
Proses ini memakan waktu yang lama tergantung luas dan kesulitan motif. Beberpapa motif khas kain tenun sasak adalah songket, selulut, kembang komak, ragi genap, kemalu, sabuk anteng. Motif itu yang membedakan kain tenun sasak dengan kain tenun daerah lain. Seiring dengan modernisasi, para penenun membuat inovasi dan kreatifitas misalnya dengan membuat kain tenun dengan motif nama sesuai pesanan.
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari masyarakat Sade,

Tulis Komentar 0 Comment

Komentar

PHOTO CONTEST